Menu Thai Favorit

July 3rd, 2009

Ketika makan di sebuah resto Thailand waktu ke Bangkok bulan Februari lalu, pas pesen menu dengan santainya gue bilang ke pelayannya, “I want Nam Phrik Kapee!”. Temen gue langsung noleh seakan gak percaya, “Gila lu, emang lu tahu itu apaan??” hihihi.

Ya tentunya gue tahu secara dulu banget sebelum ke Bangkok selalu riset dulu makanan apa yang enak dimakan selain Tom Yum?.

Nah, karena malam ini gue belum makan dan entah kenapa kok pengen banget Nam Phrik Kapee, sekalian aja nulis makanan Thailand yang gue tahu dan gue suka apa saja.

  • Nam Phrik Kapee. Nam phrik sendiri adalah sambal yang disajikan bersama nasi lengkap dengan sayuran-sayuran. Kalau di Indonesia sama saja dengan lalapan. Nam prik kapee sendiri adalah sambal dengan campuran pasta udang (terasi), jadi sebenarnya sama saja kaya sambal terasi, trus dicocol-cocol pakai sayuran dan biasanya memakai tambahan ikan goreng. Menu ini cocok dicoba untuk orang yang susah cari makanan halal di Thailand hehehe. Asal jangan memilih menu nam phrik oong, sambalnya tidak hanya ada campuran terasi tetapi juga daging babi cincang hehehe. Pengen tahu detailnya bisa lihat di web ini.
  • Yam Ma Muang. Salad mangga! Kemarin cari salad mangga dengan saus yang dicampur udang kering dan kepiting kecil-kecil disini susah banget. Untuk mengakalinya pernah saya beli udang goreng kecil-kecil, trus beli rujak mangga di kaki lima, trus pulangnya itu udang gue campur ke sambal rujaknya. Hasilnya? gagal!. Gak enak. Favorit gue adalah salad mangga yang dijual di Chatuchak. Jangan harap mencari salad mangga di kaki lima Phuket,  gila susah banget carinya :P.

penjual salad mangga di Chatuchak

  • Som Tam. Salad pepaya yang penampakannya mirip salad mangga. Pepayanya dari pepaya muda yang diiris sebesar korek api memanjang. Bumbunya mirip dengan salad mangga dan biasanya dimakan bareng ketan (sticky rice).
  • Pad Thai. Mie goreng Thai. Biasanya mienya berupa mie beras, diberi taburan kacang mede dan tentunya ada udang!. Yang unik, adanya bunga pisang yang gue kira cuma jadi pemanis, ternyata bisa dimakan juga hehehe.
  • Mango& Sticky Rice atau Khao Niaow Ma Muang . Gila ya pinter aja nemuin perpaduan mangga dan ketan trus dikasih santan. Dessert paling minimalis tapi enak banget ini menurutku paling juara. Nggak hanya mangga, durian pun juga ada.
  • Khao Pad Gai, nasi goreng Thai. Sebenarnya sama saja kayak nasi goreng disini, hanya mereka memakai tambahan minyak ikan, jadi rasanya emang agak-agak beda. Tapi, karena gue bukan pecinta nasi goreng, ya buat gue sih sebenernya sama sajaaaa hehehe.
  • Tom Yum Gong. Gak perlu dijelaskan lah ya. Hebatnya, tom yum udah jadi signature dish bagi bangsa Thai. Mungkin karena lidah langsung merasakan perpaduan asam, manis dan pedas dari satu makanan, jadinya sensasi makanan ini luar biasa hahaha.

Di resto Thailand, paling nemu-nemu menu yang itu-itu saja. Kalau kita? Nggak usah jauh-jauh ke makanan, masuk ke warung Sunda saja dihadapkan dengan berbagai pilihan sambal, belum lagi makanannya. Itu baru Sunda saja, belum lagi daerah lain.

Itulah mengapa kalau gue ditanya “What is your national dish?”. Gue pasti bingung jawabnya. Karena buat gue semua masakan Indonesia itu eennnaakkkk dan tiap masakan punya “kepribadian” sendiri-sendiri hihihi.

Antara Hokben, Merica dan Siput

June 29th, 2009
  • Pertama kali makan di Pondok Pizza jaman dulu kala, gue minta ke pelayannya, “Mas minta MERICA dong!”. Masnya agak bingung, tumben-tumbenan ada orang minta merica di Pondok Pizza, tapi mas pelayannya bersedia ngambilin merica. Trus pas gue lihat botol dan isinya kok tidak seperti sebelah gue yang menaburkan “merica” berwarna kuning itu ya. Gue bilang ke mas-nya, “pengen MERICA yang kaya itu mas!”, sambil nunjuk ke sebelah gue. Jawaban masnya, “Maaf mas, itu bukan MERICA tapi KEJU PARMESAN!”.
  • Dahulu, tiap lewat Pasar Benhil malam-malam selalu pengen tertawa tiap melihat warung kaki lima yang menuliskan menu di kain penutup warungnya dengan KWETIWU SAPI, bukannya Kwetiau Sapi hihihi.
  • Pas kuliah ke Bandung ada warung nasi goreng gue menyebutnya warung Bekicot. Bekicot adalah bahasa Jawa untuk siput. Warungnya menyediakan berbagai macam menu nasi goreng. Gue pernah suatu malam pesan. “Mbak pesan nasi goreng seafood ya, makan disini”. Gue pun duduk dan selang beberapa menit kemudian pesanan gue dianter ke gue oleh mbaknya dan dia bilang apa? “Mas, ini nasi goreng SIPUTnya…”. Dodolnya gue sempat menolak “Itu bukan pesanan saya!”. Tapi mbaknya kekeh dengan lafal SIPUT-nya. Dari kejauhan yang menggoreng teriak, “Iya itu bener Seafood!”. Oh Ok. Begitu kunjungan kedua, ketiga, keempat si Mbaknya tetep bilangnya nasi goreng siput, siput dan siput.
  • Gue nggak suka makan pizza dipotong-potong pake garpu dan pisau. Lebih suka dipegang pakai tangan trus digigit-gigit, kaya di film-film gitu deh.
  • Gue kira Hokben itu asalnya dari Jepang hahaha. Ternyata asli milik Indonesia. Kantornya di daerah Tanah Abang dan katanya bisa juga pesan dan makan di kantornya situ, tapi katanya lagi, tempatnya kurang enak.
  • Ngomong-ngomong tentang Hokben, klien temen gue yang orang-orang Jepang suka banget Hokben. Ceritanya dia iseng aja kasih makan siang kliennya Hokben, ndilalah kok ya jadi ketagihan. Begitu juga, temannya teman dari Jerman, tiap ke Indonesia selalu menyempatkan makan Hokben. Sampai pacarnya pun dipromosiin, “Eh kalau ke Indonesia lo makan Hokben deh!”. Jadinya foto pacar di fb adalah foto dia lagi makan di Hokben!
  • Masih seputar Hokben, teman kuliahku yang asli Surabaya, tiap pulang ke Surabaya dari Bandung selalu beli oleh-oleh Hokben buat nyokapnya. “Di Surabaya nggak ada Hokben (waktu itu)”. Secara berangkat naik kereta dari Bandung jam 5 sore, sampai jam 6 pagi di Surabaya apa enaknya makan dingin?. “Ya tentunya diangetin lagi!”, katanya.
  • Menurut gue, sambal Hokben itu sambal paling pedas diantara sambal fastfood lainnya. Yang paling gak enak adalah sambal punya McDogol, seperi campuran tepung kanji dan cabe!
  • Ngomong-ngomong tentang sambal, pernah suatu ketika gue ke ayam cap kakek. Sambalnya kan enak tuh. Ada dua oknum mbak-mbak beli take away ayam goreng. Dan abis dari kasir dan menerima bungkusan, tiba-tiba secara diam-diam kedua oknum itu lari ke bagian sambal yang dipompa, dia mengeluarkan plastik dan dipompalah itu sambal sebanyak-banyaknya hihihi. Boleh juga diconto, asal jangan ketahuan hahahaha.
  • Perhatikan deh, sekarang ayam cap kakek itu tidak menggunakan tulisan Kentucky Fried Chicken seperti jaman dulu kala, tapi disingkat jadi KFC saja.Gue kira di Indonesia saja, ternyata pas di Cina juga disingkat hehehe.
  • Waktu lewat pasar Sumedang jaman dahulu kala, sempat melihat ada yang jualan ayam goreng bermerk Chicago Fried Chicken!. Maksa!
  • Nah masih seputar Sumedang, pernah suatu ketika salah seorang teman beli Teh Botol di warung kaki lima, ndilalah pas diminum kok lain, padahal botolnya dan rasa pegangannya sama. Pas dilihat ternyata merknya adalah Teh Bintang, asli Padalarang.
  • Tulisan ini diilhami oleh perjalanan ke daerah Puri yang entah kenapa topik pembahasannya kok ya Hokben. Trus besoknya langsung delivery Hokben!.

Kota kota

June 20th, 2009
  • Jakarta disebut di salah satu dialog di serial 24.
  • Kota di Jawa Barat yang pengen sekali gue singgahi adalah Garut, Kuningan, Sukabumi dan Tasikmalaya. Membayangkan Sukabumi seakan dikotanya itu ada backsound suling-suling musik Sunda hihihi.
  • Gue suka ketukar antara Bojonegoro dan Bondowoso. Bojonegoro adalah kota di Jawa Timur dekat Lamongan sementara Bondowoso itu dekat Jember hehehe.
  • Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sumatera adalah di kota Padang. Gue suka Bukitinggi. Dan gue pernah singgah di kota Bonjol, tempat lahirnya Tuanku Imam Bonjol. Kota ini terletak tepat di garis khatulistiwa.
  • Waktu SMU, kota idola gue adalah Yogyakarta dan pengen sekali bisa kuliah disana.
  • Nyatanya, terdampar kuliah di Bandung dan menghabiskan 4 tahun lebih hidup disana.
  • Pengen banget ke Semarang dan Solo, kesana selalu cuma numpang lewat doang.
  • Kalau ke Solo atau Semarang, pengennya lanjut ke Magelang dan Wonosobo.
  • Purbalingga itu terletak di Jawa Tengah, kalau Probolinggo itu di Jawa Timur.
  • Purwakarta itu di Jawa Barat, kalau Purwokerto dimana hayo? Hehehe
  • Pengen ke Mojokerto, Jawa Timur, melihat sisa-sisa kemegahan Majapahit di Trowulan. Terakhir kali kesana 20 tahun lalu.
  • Pertama kali ke Surabaya karena dulu penasaran akan Jembatan Merah yang terkenal itu.
  • Pertama kali pula ke Surabaya langsung nyebrang ke pulau Madura. Tentunya dulu belum ada jembatan Suramadu.
  • Penasaran akan kota Padang Sidempuan sejak SD, karena rute ini pernah dilewati lomba sepeda Tour de Sumatra belasan tahun lalu.
  • Tiket Airasia gue ke Makasar untuk tahun ini hangus, sebab Airasia menutup penerbangan kesana. Kunjungan ke Toraja tertunda lagi. Kalau kata Pablo, temen dari Spanyol gue, dia menlafalkan Toraja dengan TORAYA hihihi.
  • Baca leaflet di Changi tentang makanan yang bisa dimakan di Singapura, disebutkan kalau sate itu asalnya dari Ponorogo (Ah senangnya nggak diaku-aku sebagai national dish mereka huehehe) . Waktu kuliah gue pernah liburan ke Ponorogo. Makan sate waktu malam di pedagang yang masih memanggul dagangannya (mirip di gambar kecap Cap Orang Jual Sate) dan tiap pagi minum kopi tubruk di warung dekat kelurahan. Pengunjungnya campur-campur, dari petugas kelurahan sampai petani, yang satu pakai seragam dinas, satunya bapak petani yang sepertinya baru bangun tidur, dia memakai singlet dan sarung hehehe.
  • Kalau Malaysia punya slogan Truly Asia, kalau Malang punya pesona Jawa Timur yang sesungguhnya huahahaha.

    Halo Halo Bandung!

    June 20th, 2009

    Melihat banyak status FB teman-teman yang pada lagi OTW ke Bandung naik kereta, atau lagi sibuk milih menu makan pagi, bubur apa yang enak di Bandung bahkan ada yang sudah nge plan makan apa aja kalau disana hihihi (Hi Nad!), gue jadi teringat pengalaman pertama pergi ke Bandung tahun 1998. Pernah tahun 1994 pergi kesana tapi itu cuma seperti transit saja hehehe.

    Gue pergi ke Bandung pertama kali bukan karena untuk liburan, tapi karena “terpaksa” gue harus kuliah disana. Malam sebelum hari keberangkatan, gue dan temen (Hi Bram!) pergi ke Gramedia Malang untuk membeli peta kota Bandung. Malam itu juga peta kota Bandung langsung dipelajari. “Oh kampus gue ternyata deket sama jalan Dago yang terkenal itu lho”, karena gue cuma tahu Bandung itu Dago dan Cihampelas hehehe.

    Hari keberangkatan seru sekali, teman-teman satu sekolah yang  diterima di sekolah yang sama berangkat bareng-bareng naik kereta dari Malang transit ke Surabaya trus  lanjut ke Bandung. Serunya, masing-masing keluarga mengantar kami. Waktu itu gue diantar kakak, almarhum Bapak dan Ibu. Waktu kereta berjalan nih ya, kami semua dadah-dadah dan rasanya kok ya sedih (dan sampai menitikkan air mata, seriues…). Apalagi itu hari itu juga gue melihat Bapak masih sehat walafiat dan baru 3 bulan setelahnya saya dapat kabar kalau dia sakit dan akhirnya meninggal. Sejak saat itulah tiap ke stasiun kota Malang selalu saja teringat salah satu momen terindah itu dan entah kenapa gue selalu merasakan stasiun itu romantikanya beda dibanding terminal bus atau airport.

    Ya eniwei,

    Perjalanan kereta yang memakan waktu lebih dari 12 jam itu seru sekali. Karena kami ramai-ramai jadinya perjalanan lama ngga terasa. Apalagi begitu mau masuk kota Bandung setelah subuh, sebelum Rancaekek, viewnya buat gue keren banget. Soalnya baru kali pertama itu gue naik kereta yang menembus perbukitan. Pemandangan waktu pagi menjelang matahari terbit luar biasa kerennya waktu itu (sekarang mungkin masih hehehe).

    Nah, begitu nyampe Bandung nih ya, entah kenapa kok lidah nggak cocok sama makanannya! Lidah gue masih lidah Jawa Timuran yang belum siap menerima apa itu batagor, karedok dan masakan Sunda lainnya. Padahal dibilang, Bandung gudangnya makanan.  Mungkin karena emang gue gak nafsu makan dan gue pikir mungkin ini pertama-tama saja. Nyatanya kuliah sejalan sebulan dua bulan, tetep saja nafsu makan kurang. Efek dari nafsu makan kurang dan mungkin stress belajar huehehehe.

    Setahun dua tahun berjalan ternyata sama saja, gue nggak begitu tertarik makanannya. Baru menjelang tingkat akhir, disaat banyak waktu untuk jalan-jalan dan kebetulan sahabat gue juga hobinya cari tempat makan, sejak saat itulah setiap mengunjungi tempat makan seru adalag agenda rutin. Dulu, seringnya ngacir ke Warung Lela yang dulunya cuma satu rumah, belum diperluas sampai rumah diatasnya seperti sekarang. Atau kalau nggak icip Suis Butcher Setiabudi yang harganya sempat di Rp 8500,00. Kangen bakso Malang tinggal pergi ke Mandeep depan masjid Istiqomah atau biasanya makan siang nyobain timbel di depan masjid yang sama.

    Nah, sekarang nih ya, udah tinggal di Jakarta kok ya merasa, “memang Bandung itu surganya makanannya enak!”. Tiap ke Bandung nih, entah kenapa selalu saja ada warung baru dan pasti seru. Dan uniknya gue CINTA MATI masakan Sunda malah setelah bekerja di Jakarta. Hiks. Memang sih ya cinta itu akan lebih terasa kalau kita berpisah. Halah halah halah.

    .

    Apa kareba?

    June 16th, 2009

    • Abis kehilangan dompet, dan ilangnya gak dicopet tetapi ikut terbuang. Sudahlah, lagi apes dan  jangan ditanya kapan-dimana-kok-bisa hehehe.
    • Akibatnya telat bayar tagihan hosting situs pribadi ini (alasan saja).
    • Trus, paling capek ngurus-ngurusnya. Secara kartu-kartuan di dompet ada 9 buah. Pas ngurus surat kehilangan di kepolisian dong, malah bapak polisinya berceramah tentang Pemilu Presiden.
    • Entah kenapa gue susah banget berpikiran positif. Udah cetakan dari sononya kali ya? Sudah dilatih untuk berpikir positif, tetap saja bawaannya negatif mulu hahahaha.
    • Lagian ya berpikir positif seperti “Ayo semangat!”, “I like Monday!” atau sebangsanya kok ya terasa denial abis huehehe.
    • Akhirnya diriku menginjakkan kaki di ITC Kuningan setelah berabad-abad nggak kesana.
    • Dan rupanya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Lindeteves Trade Center (LTC) di Glodok sana. Ada semacam harta tersembunyi di LTC Glodok yaitu pijit refleksi sejam hanya 23 ribu rupiah saja. Tapi malesnya, sang pemijit lebih konsen melihat infotainment daripada mijit :P. Jadi pesan saya kalau kesana mending jam-jam 10-11 atau 13-15 disaat tidak ada infotainment huehehe.
    • Abis ngobrol sama rekan kerja, paling nggak enak kalau udah janjian mau ketemu klien atau teman trus kita udah bilang “Eh gue udah di parkiran” atau “Bentar lagi nyampai, udah di belokan” trus tiba-tiba dengan seenaknya si klien atau teman membatalkan dengan alasan  “MASIH MEETING”. Tapi beberapa menit kemudian si orang pasang status di Facebook…”lagi nunggu masuk bioskop, siap-siap nonton Ketika Cinta Bertasbih”. Gue pun bertasbih supaya Tuhan memberi kami kesabaran. Amin.

    Garuda di dada Ponakanku!

    June 10th, 2009

    Sebagai seorang yang cita-cita menjadi atlet harus dikubur karena keinginan orang tua yang pengen anaknya sukses di bidang akademis (halah), gue jadi terkagum-kagum sama para atlet yang sukses dibidangnya.

    Nah ketika tahu ponakan gue yang berumur 10 tahun itu memang bakat banget untuk jadi atlet, gue seneng banget.

    Umur 3 tahun dia sudah bisa sepeda roda dua.

    Umur 4 tahun sudah bisa main skateboard.

    Nah sekarang dia lagi tergila-gila sama SEPAKBOLA!

    Sampai kemarin si Bima, ponakan gue itu, iseng menemani tetangga yang lagi latihan di klub sepakbola lokal di Malang sana. Dari sekedar melihat-lihat sampai dia iseng memainkan bola. Beruntung pelatih melihat bakat ponakanku ini. Dicobalah dia bertanding dan ndilalah kok ya berhasil membuat GOL!.

    Ternyata klub itu sedang menyeleksi pemain untuk bertanding di kejuaran antar klub se Jawa Timur. Beruntunglah Bima yang dari sekedar iseng melihat-lihat, trus langsung diajak masuk ke klub itu dan jadi pasukan inti ke kejuaran antar klub. Seleksi masuk tim inti ternyata ketat, sampai ada orang tua murid yang protes karena anaknya sudah bertahun-tahun berlatih kok gak masuk tim inti, sedangkan Bima baru sehari gabung langsung diterima. Pengen rasanya bilang, “Anak bapak mungkin harus kerja keras lagi atau mungkin nggak ada bakat di sepakbola, jadi jangan dipaksakan dong!” hehe.

    Nah, minggu lalu gue dapat kabar kalau klubnya Bima meraih juara ketiga di kejuaraan antar klub itu! Gue seneng banget!

    Buat gue, ranking satu di kelas atau juara Olimpiade Sains  adalah hal yang biasa, tapi berhasil meraih gelar (walaupun tidak juara satu) di kejuaraan olahraga adalah hal yang luar biasa!

    Doaku buat ponakanku, semoga cita-citamu main di Gelora Bung Karno kesampaian ya Thole! Ponaryo dan Bambang Pamungkas menunggu pengganti dan itu adalah kamu! hehehe

    Nggak salah oleh-oleh sepatu bola Reebok (anjis disebutin merk!) dari Om kamu yang ganteng ini tidak sia-sia hehehe.

    Drag Me To Hell

    June 6th, 2009

    Melihat judul dan posternya jelas-jelas ini film horor. Film horor yang menghibur, pertautan cerita dari awal sampai endingnya mengalir lancar dengan ditambahin adegan yang bikin terkaget-kaget tentunya.

    Tapi yang bikin surprise film ini sukses membuat  gue banyak tertawa dengan adegan-adegan horor gobloknya. Saking suksesnya, saya menontonnya dua kali saja hahahaha.

    Hemat tempat

    June 5th, 2009

    Gue nggak bakal jalan-jalan lagi dalam beberapa bulan ke depan kecuali pulang kampung pas lebaran. Bokek.

    Oh iya, waktu itu Pras minta barang bawaan apa saja yang dibawa kalau jalan-jalan yang menyebabkan tas yang gue bawa nggak berat-berat amat (nggak seperti Pras yang katanya kaya bawa kulkas hehehe). Ini dia versi saya.

    • Berapa malam kita habiskan waktu berlibur? tiga? empat? lima?. Ada rumus membawa baju 2n-1 (nggak baku banget, cuma ini jumlah maksimal versi gue), dengan n = jumlah malam. Jadi kalau lima malam berarti membawa (2*5)-1 =9, 2 baju per hari plus membawa baju tidur yang bisa digunakan maksimal 2 malam per 1 baju tidur. Kalau lebih hemat bisa 1 baju tidur untuk 5 malam!. Selain itu tergantung itinerarynya, misal kalau seharian jalan dari pagi sampai malam dan pulang-pulang langsung tidur bisa lebih hemat nggak perlu ganti. Bahan baju juga menentukan. Bahan kaos bisa digulung dan membentuk sebuah tabung sangatlah hemat tempat. Kalau misal ditempat tujuan bakal beli kaos (seperti di Bangkok, kaos murah-murah) tentunya barang bawaan makin berkurang, karena kaos yang dibeli bisa langsung dipakai heheh.
    • Satu sweater dengan bahan nggak terlalu tebal, biasanya saya bawa untuk mengatasi AC pesawat yang kadang terlalu dingin buat saya. Nggak masuk ke bagasi, biasanya saya bawa masuk ke dalam pesawat.
    • Satu jaket parasut yang bisa dilipat sebesar dua kepalan tangan, kalau-kalau ada hujan (daripada bawa payung hehehe).
    • Satu celana selutut, satu jeans (karena bahan jeans dipakai lama-lama malah makin enak dan kalo kotor nggak terlalu kelihatan) dan satu celana buat tidur.
    • Celana dalam biasanya saya beli yang disposable (bisa dibeli di supermarket).
    • Satu sepatu
    • Satu sandal
    • Toiletries biasanya saya cuma bawa sikat gigi+odol, gel rambut, deodorant dan parfum. Itupun parfum sudah saya pindahkan ke botol kecil ukuran 25 ml (yang bisa dibeli supermarket). Karena saya nggak masalah pake sabun dan shampo apa saja, jadinya gak perlu bawa kedua benda itu hehe. Kalaupun bawa, bisa membeli botol kecil 25 ml tadi dan pindahkan secukupnya. Untuk tempat toiletries ini saya beli dengan packaging yang tahan air dan bahan yang nggak terlalu kaku. Rata-rata tempat toiletries yang dijual di supermarket terlalu warna-warni dan cewek banget, untuk mengakalinya mending beli di toko olahraga.
    • Satu kantong yang berisi obat-obatan, multivitamin dan balsem! Dulu sih sering bawa balsem, tapi makin kesini kok malah gak kepake. Buat jaga-jaga kalau mual dan masuk angin.
    • Kabel adalah salah satu benda yang paling ribet untuk dibawa. Kabel charger HP, kamera dan laptop selalu bikin ribet. Untuk itu saya selalu punya kantong khusus buat perkabelan.
    • Satu sling-bag kecil buat bawa dokumen dan digicam saku.
    • Satu kantong buat baju kotor dan satu kantong parasut kalau-kalau overweight hehehe.

    Nah, yang bikin pusing kalau mesti bawa jaket tebal. Seperti yang saya bilang, jaket tebal saya kalau dilipat saja udah seukuran bantal. Hah.

    Tapi, itu semua tergantung pribadi masing-masing dan pergi kemana sih ya. Hanya saja mending kekurangan bawa pakaian daripada kelebihan, biar ada alasan untuk berbelanja tentunya hehehe.

    Bagaimanapun juga, mereka Bangsaku

    June 1st, 2009


    Waktu pulang dari Cina, gue harus transit dulu ke KL, di LCCT, untuk lanjut naik Airasia lagi ke Jakarta. LCCT sekarang sudah lebih rapi dibanding dua bulan lalu karena ada renovasi. Sampai di LCTT tentunya harus ngambil bagasi. Kami pun nunggu di sebelah conveyor belt  yang sudah ada tas-tas beraneka ragam dan bentuk.
    Waktu menunjukkan pukul 15:10 waktu setempat.

    5 menit menunggu, tas gue belum keluar.
    15 menit lewat dan satu rombongan sepesawat ama gue, juga belum ada satupun yang mengambil tas. Padahal banyak travel bag yang masih berjalan di Conveyor belt.
    20 menit gak keluar juga, samping gue ada orang yang sangat cemas karena penerbangan selanjutnya boarding jam 16:30 (Kalau gue pasti langsung PARNO).
    30 menit nggak keluar juga. Iseng gue lihat tag di tas yang berjalan, rupanya tas-tas ini milik penumpang dari Shenzen yang datang kira-kira datang 1 jam lebih dulu dari gue.

    Terlihat agak  jauh dari gue, ada rombongan tur, sepertinya dari Indonesia. Terdengar dari percakapannya. Jelas Indonesia.

    Gue mikir, “Duh kemana sih ini orang-orang yang dari Shenzen, kelupaan apa?!”

    Tas-tas penumpang dari Guilin nggak akan keluar di conveyor sebelum tas-tas dari Shenzen abis semua. Sampai akhirnya petugas bandara MENGAMBIL tas-tas bertag Shenzen di conveyor belt dan MENUMPUKNYA di LANTAI.

    Akhirnya tas-tas bertag Guilin keluar. Sambil menunggu tas gue keluar, tiba-tiba gue melihat ROMBONGAN TUR ORANG INDONESIA TADI bubar dan beberapa dari mereka MENGAMBIL TAS MASING-MASING YANG DITUMPUK di LANTAI OLEH PETUGAS BANDARA TADI. Rupanya mereka dari Shenzen!

    Pengen marah rasanya! Kenapa nggak dari tadi ngambilnya ??!! Toh mereka juga berdiri disamping conveyor belt!.

    Mental juragan sih ya jadi mesti harus diambilin oleh petugas. Kebiasaan berada di bandara Soekarno Hatta, porter bisa masuk bantuin ambil bagasi. Mungkin!

    Belum berhenti disitu.

    Rupanya rombongan tur Indonesia tadi satu pesawat sama gue ke Jakarta.

    Sebelah gue duduk dua orang anggota dari rombongan itu. Dan entah kenapa, banyak banget orang yang membawa tas besar-besar masuk ke dalam pesawat, sampai gue nyari laci atas itu kosong aja susah! Gue duduk di deretan 25, tas gue ada di 17. Sampai pramugari-nya ngomong ke temannya, “Nak busy orang-orang ini, bawa barang 6 pieces!”, dengan logat Malaysia yang kental.

    Tentunya kehebohan terjadi pas pesawat mau turun. Menurut pengamatan gue, kenapa ya pesawat sudah landing tapi belum berhenti sempurna sampai tanda lampu sabuk pengaman mati, orang-orang ini sudah banyak yang melepas sabuk pengaman, kemudian menyalakan HP dan memberi tahu kalau sudah sampai Jakarta. Trus sebelah gue, teriak ke temennya, “Eh batu GIOK saya tolong ambilin ada di atasmu!”. Itu pesawat belum berhenti!. Bahkan sudah ada yang berdiri membuka laci bagian atas.

    Pesawat berhenti langsung semua berdiri dan pengen keluar cepet-cepet seakan nggak ada hari esok. Padahal pintu juga belum dibuka. Sebelah gue udah pengen keluar sambil menenteng patung GIOKnya. Gue yang duduk sisi alley diam saja karena bagaimanapun gue berdiri juga nggak ada tempat karena saking sesaknya.

    Jadi inget jaman naik bus patas Surabaya – Ponorogo dulu…

    Rupa-rupa perjalanan kemarin

    May 30th, 2009
    • Pergi ke Cina bagian barat daya merupakan suatu pengalaman yang luar biasa!
    • Waktu pergi, gue nggak mikir akan kesulitan bahasa. Walaupun pas pergi, ada satu yang bisa bahasa Mandarin, tetep aja kadang kami juga kesulitan. Hanya saja, bahasa bukan jadi hambatan untuk pergi. Yang penting tiket di tangan, pergi dan terserah nantinya di tempat tujuan gimana. Bukannya banyak hal yang tak terduga selama traveling dan itu membuat hidup lebih berwarna?
    • Pergi di saat virus H1N1 jadi topik hangat sedikit mengawatirkan juga. Cek kesehatan di tiap bandara tentunya makan waktu. Bahkan begitu sampai Guilin, kami harus ngendon di pesawat selama hamper sejam hanya karena harus antri penumpang pesawat lain untuk selesai diperiksa.
    • Gosip WC jorok di Cina bukan isapan jempol. Siap-siap saja menemui WC dengan pintu setinggi 2/3 dari ukuran pintu normal (kalo lagi jongkok, kepala pasti kelihatan hehehe), tentunya bawa tisu basah sebanyak-banyaknya ya.
    • Gue suka Chinese Food tapi entah kenapa selama di Guilin jarang ada yang sesuai lidah hehe. Tapi malah warung di Jiuxian Old Village menjadi warung dengan menu terlezat yang gue makan selama di Cina.
    • Selama di Guilin gue nginep di Lakeside Inn, salah satu pegawainya jago berbahasa Inggris.
    • Guide waktu Cruise di Sungai Li paling jago berbahasa Inggris dibanding guide lain yang kami temui. Dan dia juga kocak!
    • Di Yangshuo, kami menginap di Moon Resort Hotel. Hotel di daerah Moon Hill (8 km dari pusat kita Yangshuo). Terletak di perumahan penduduk dengan view paling juara…ini dia..

     

    • Fasilitas hotel di Moon Resort menjadi fasilitas paling juara menurut gue, yaitu MEJA PING-PONG. Tiap pagi sebelum berangkat atau malam selesai jalan-jalan, kami membunuh waktu dengan main ping-pong!
    • Berangkat membawa backpack seberat kurang dari 5 kg, pulangnya nggak lebih dari 7 kg!. Makin hari memang makin minimalis hehe.
    • Rasanya pengen liburan lagi. Menabung lagi, habisin lagi hahahaha.