di dinding Hostel LubD, Bangkok :)

March 3rd, 2010

bersama Janet Hsieh

February 28th, 2010

Waktu itu, di bandara Chiang Mai. Ada cewek lari buru-buru, gue mikir, “Kok perasaan familiar ama mukanya ya?”. Trus gue coba ikutin dari belakang. Rupanya dia cari ATM. Selesai urusan ATM, pas dia balik gue tanya dengan sopan, “Are you Janet Hsieh right?”. Dijawab ya dan gue pun minta foto bareng tentunya hahahaha. Janet Hsieh ini presenter acara Fun Taiwan di Discovery Travel & Living. Kebetulan juga, artiket tentang dia ada di majalah Travel+Leisure South East Asia edisi Februari 2010.

Soy Joy Healthylicious

February 25th, 2010

Wow! jadi 50 kandidat Soy Joy Healthylicious!

Berharap semoga jadi 10 finalis hihihi. Secara untuk urusan hidup sehat kan gue pernah mencoba ya. Inget kan postingan yang ini? hihihi

Yin dee tee dai rue juk, Chiang Rai!

February 2nd, 2010

Yin dee tee dai rue juk berarti nice to meet you. Saking sering dikira Thai dan orang Thai jarang bisa ngomong bahasa Inggris, mau nggak mau gue harus sedikit belajar percakapan dasar ala Thai dong. Siapa tahu nanti bakal jadi warga negara sana. Kidding.

Rute gue sebenernya adalah Bangkok – Chiang Rai naik pesawat. Baru kemudian Chiang Rai – Chiang Mai naik bus selama 3 jam. Bus yang gue pilih juga bagus. Namanya Green Bus. Beli tiket langsung di terminal baru Chiang Rai. Terminal busnya kecil, bersih dan teratur. Ticketing Green Bus juga sangat computerized. Kita beli di terminal itu dan bisa milih tempat duduk yang kosong mana aja via layar computer. Berasa nonton bioskop. Tiket bus Chiang Rai – Chiang Mai seharga 126 Baht ( 39K Rp).

Hanya sedikit yang bisa dilihat di Chiang Mai. Kotanya kecil dan sepi. Chiang Rai menjadi tempat singgah para turis dari Chiang Mai yang ingin ke Golden Triangle, perbatasan Myanmar, Laos dan Thailand yang dulunya adalahnya tempat perdagangan opium.

Oh ya, bandara Chiang Rai juga lumayan bagus untuk ukuran kota kecil. Yang lebih penting adalah ada beberapa booklet tentang kota (termasuk peta) gratis. Berbekal booklet kota itulah gue langsung menuju ke Khao Soi Ngam Muang, warung Khao Soi milik muslim Thai di jalan Ngam Muang yang direkomendasikan di booklet. Inilah pertama kali gue makan Khao Soi. Entah karena emang lapar atau karena emang enak, gue habis 2 porsi saja. Yang bikin surprise, pemiliknya fasih berbahasa Inggris.Dari dia pula gue minta petunjuk tulisan Thai buat supir taksi untuk mengantar gue ke Wat Rong Kun atau lebih dikenal dengan The White Temple.

The White Temple adalah buatan artist Thai tahun 1998. Jadi bukan wat yang sudah berusia ratusan tahun. Satu kata untuk wat ini adalah INDAH!.

Gue cuma menghabiskan satu malam di Chiang Rai. Hiburan malam yang direkomendasikan adalah pergi ke night market. Night Market di Chiang Rai terletak di Phaholyothin Road dan mengambil tempat di terminal lama. Dibandingkan dengan night market Chiang Mai, punya Chiang Rai lebih kecil tapi gue malah menemukan barang yang ternyata tidak dijual di Chiang Mai.Nyesel juga pas mikir, “ah tar dulu, di Chiang Mai nanti pasti dijual juga”. Eee nggak taunya di Chiang Mai nggak ada. Syal berbahan katun di Chiang Rai dijual berbagai motif, di Chiang Mai tidak. Karena malam sedikit dingin, beli syal disini dan memakainya sungguh terlihat keren. Toko favorit adalah The Northen Hand Woven yang menjual poncho unisex.

Dari Bangkok dan Chiang Rai saja, belanjaan gue udah banyak. Sengaja membawa tiga kaos dari Jakarta karena niat pengen beli banyak di Thailand hehehe.

pamer.com LOL

Sabaidee Chiang Mai!

January 30th, 2010

 

Chiang Mai menurut gue seperti kombinasi kota Malang, Jogjakarta dan Legian, Bali. Seperti Malang karena dikeliling bukit dan hawanya sejuk dan lalu lintas yang tidak terlalu ramai. Mirip Jogja karena ada bekas tembok kota tua dan banyak wat yang sudah berusia ratusan tahun yang mudah dijumpai di dalam kota. Nah, mirip Legian ada di banyaknya deretan cafe dan toko yang menjual benda khas lokal. Saking banyak turis bulenya, sepertinya jumlah bule lebih banyak dibanding lokal di daerah kota tua.

Menyusuri kota tua di Chiang Mai bisa dengan jalan kaki. Atau lebih asik sih naik sepeda. Awal bisa dimulai dari Thapae Gate. Thapae Gate ini seperti alun-alun bagi warga dan jadi salah satu spot favorit saya di Chiang Mail. Selain tembok tuanya, kolam di dekat Thapae Gate berisi ikan-ikan gemuk yang katanya kalau kita memberi makan ikan, kebahagian akan menyertai kita. Tentunya gue kasih makan ikan dan emang kok lihat ikan aja bisa bikin gue seneng, apalagi kasih makan segala. Hati-hati, burung merpati juga bisa berebut minta dikasih makan.

Dari Thapae Gate, masuk ke dalam kota tua bisa mengunjungi Wat Chedi Luang.Disini ada Monk Chat program. Kita bisa ngobrol dengan biksu mulai tentang Budha sampai kehidupan sehari-hari mereka.

 Satu hal yang gue idamkan sebelum ke Chiang Mai adalah mencicipi makanan lokal yang sangat terkenal yaitu khao soi, mie kari ayam/sapi dengan taburan stik kering diatasnya. Biasanya disajikan pula tambahan berupa acar sayur sawi mirip kimchi tapi ini tidak pedas. Jangan lupa mencampur bawang merah dan perasan jeruk nipisnya. Enak! Gue sampai nambah lho!. Salah satu warung khao soi yang terkenal ada di Charoenprathet Road Soi 1. Namanya Khao Soi Islam. Khao soi sendiri awalnya adalah makanan pagi muslim Thailand Utara, tapi semakin kesini banyak restoran yang menyajikan menu ini sepanjang hari.

Pengen merasakan aura jalan Kemang-nya Chiang Mai, bisa datang ke Nimmanhaemin Road. Waktu itu gue ke Nimmanhaemin Soi 9. Deretan coffee shop berjejer sepanjang jalan. Salah satu favorit gue tentunya adalah Wawee Coffee, kedai kopi mirip Starbucks tapi ini 100% asli Thailand. Wawee Coffee di Faham Road juga keren, letaknya di pinggir sungai Ping, sungai yang mengalir di Chiang Mai.

 

 

Bingung menghabiskan malam, bisa datang ke Night Market. Letaknya di Changklan Road. Trotoar jalan ini setiap malam dipenuhi kios yang menjual berbagai macam pakaian dan pernak-pernik khas. Mirip di Silom hanya saja ini lebih panjang. Pengen lebih leluasa bergerak daripada harus berhimpit di trotoar bisa beralih ke Anusarn Night Market yang letaknya di jalan yang sama, hanya mengambil tempat di tempat yang lapang dan tentunya ada food court. Pijit ala Thai di outdoor juga ada di pasar ini.

 

Orang Thai susah menyebut huruf S di akhir kata. Makanya Warorot Market tertulis Waroros Market tapi pengucapannya jadi Warorot. Pasar ini bisa didatangi kalau ingin beli oleh-oleh asinan, manisan, kacang teri berbumbu pedas sampai buah segar besar “Bangkok” banget.

Bangkok: Hidden Gems

January 29th, 2010

Ke Bangkok untuk kesekian kalinya, tetep lho ada spot-spot menarik yang belum gue jamah dan tentunya lepas dari jangkauan turis. Kali ini yang jadi tujuan utama gue adalah pasar loak dan tentunya tempat makan. Sisi pasar loak di Chatuchak mungkin paling juara, besar dan lengkap, tapi dua pasar loak dibawah ini, karena tempatnya lebih kecil, gue bisa menjangkau semua kios dan tentunya mudah mendapatkan barang menarik dengan harga sangat murah.

Wong Lang Market.
Wong Lang Market terletak di depan Siriraj Hospital. Begitu turun dari boat di Wong Lang Pier, langsung ketemu pasar ini. Pasar loaknya sendiri terletak di dalam pasar yang sebagian besar menjual pakaian dan kebutuhan sehari-hari. Pasar loaknya membentuk lokasi tersendiri. Deretan sepatu bekas di dalam pasar bisa jadi tanda bahwa inilah pasar loaknya. Selain sepatu bekas, dijual juga jeans, kaos, tas dan ikat pinggang. Makin siang makin ramai oleh pelajar dan mahasiswa lokal yang berburu barang bekas murah. Hasil buruan gue, ikat pinggang 100% kulit seharga 100 Baht (30K Rp).

Cara kesana: Naik BTS turun di stasiun Saphan Taksin. Turun ke pemberhentian boat Saphan Taksin. Naik express boat seharga 20 Baht (6K Rp) ke Wong Lang Pier. Keluar Wong Lang Pier belok kiri adalah Wong Lang Market.

Ratchada Night Market
Ratchada Night Market terletak di daerah Lat Phrao. Pasar malam ini hanya ada setiap Jumat, Sabtu dan Minggu. Kalau gue lihat, sepertinya ini pasar malam dadakan yang mengambil tempat di bekas tempat jual beli mobil bekas. Beberapa penjual menggelar dagangannya dari mobil yang “disulap” jadi kios dengan menggelar tikar disampingnya. Barang-barang yang dijual disini menurutku lucu-lucu!. Mulai dari telepon putar-jari jaman baheula, kamera analog yang memakai film,furnitur antic, jam weker jadul sampai yang standar yaitu tas, sepatu, kemeja dan kaos bekas. Beberapa kios menjual pernak-pernik Coca Cola dan Pepsi. Serunya, ada kios yang menjual makanan muslim :D. Hasil buruan gue yang menurut gue the best dari semua barang yang di beli di Bangkok adalah travel bag kulit+kanvas!.

Cara kesana: Naik MRT. Turun di Lat Phrao Station. Keluar ke pintu 1. Dari pintu 1 belok kanan. Ratchada Night Market terletak 100 meter dari pintu 1.

Som Tam Nua.
Salad pepaya bagi orang Thai seperti urap-urap buat orang Jawa. Restoran tempat jualan som tam di Bangkok paling hip ada di daerah Siam Square, tepatnya di Siam Square Soi 5. Namanya Som Tam Nua. Mungkin agak sulit mencari karena Nua di tulisan depan restorannya memakai huruf Thai :D. Tapi gampang aja kok, liat aja ada kerumunan orang antri tempat duduk di depan resto bertuliskan Som Tam (Nua), nah itu bener Som Tam Nua :D. Waktu itu gue pesen cuma som tam dengan kepiting asin. Pedesss!!

Cara kesana: Naik BTS turun di Siam.

Yang tersisa dari Penang….

January 12th, 2010

Little India, George Town

Penang Peranakan Mansion, ada kursi Ying Yang!:D

Cafe di Tropical Spice Garden

Aneka dim sum,  di Kedai Carnavon Street No 6

Letaknya di Lebuh Cintra, kue kelapa anget-nya enak!

10 Favorit (Gue) di Penang!

January 10th, 2010

 

Akhir tahun kemarin gue ke Penang. Suka banget! Bahkan suatu saat mungkin bakal balik lagi. Tadinya gue mau sekalian ke Ipoh, nggak tahunya 4 hari di Penang ternyata padat banget jadwalnya, jadi semoga saja nanti kalau pergi ke Penang, sekalian mengunjungi Ipoh. Ini dia favorit gue selama di Penang.

1. Cheong Fatt Tze Mansion
Terletak di Lebuh Leith, George Town. Tour guide ada di setiap jam 11 siang dan 3 sore. Jangan telat. Tour guide gue kemarin sungguh luar biasa. Diva! LOL.

2. Christian Cemetery
Letaknya 50 meter dibelakang Cheong Fatt Tze Mansion, tepatnya di Jalan Sultan Ahmad Syah. Mirip kuburan di Museum Prasati Tanah Abang, tapi ornamen nisannya lebih variatif Museum Prasasti. Disini ada batu nisan, Francis Light, orang pertama yang menduduki Pulau Penang.

3. Khoo Kongsi Temple
Diklaim sebagai temple paling berornamen di luar Cina. Suka banget view masuknya, yaitu deretan old shop house yang tetap kokoh berdiri walaupun cat temboknya banyak yang mengelupas. Letaknya di Cannon Square (antara Armenian Street dan Acheen Street).

4. King Street Temple
Deretan kuil di Lebuh King memberi pemandangan yang unik diantara deretan old shop house. Letaknya di Lebuh King (dekat Penang Peranakan Mansion)

5. Ali Nasi Lemak
Nemu secara nggak sengaja ketika berjalan di Lebuh Pantai. Sebungkus harganya RM 1.5. Letaknya di Sri Weld Food Court. Buka dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore.

6. Naik kereta menuju Bukit Bendera (Penang Hill).
Kita bisa melihat kota George Town dari atas bukit ini. Yang paling seru adalah naik kereta menuju ke puncak bukit!.

7. Gurney Drive Hawker Centre
Ke Penang kurang lengkap kalau belum mencicipi char kwe tiay, rojak, asam laksa dan pasembur!. Nah, Gurney Drive Hawker Centre adalah pusatnya. Cobain rojak G P Soon. Tiap malam selalu saja antri!. Termasuk gue rela antri demi merasakan nikmatnya. Mmm seperti kombinasi rujak petis dan rujak manis hehehe.

8. Armenian Street
Rumah bernomor 120 di Armenian Street adalah bekas rumah Dr Sun Yat Seng. Rumah itu sekarang dimiliki orang warga setempat yang nama belakangnya Nasution. Rupanya, warga Malaysia itu kawin sama orang Indonesia, tentunya dari Batak :D. Di jalan ini juga terdapat Cheah Kongsi, merupakan klan Hokkian tertua di Penang. Temple Cheang Konsi sendiri selesai dibangun sekitar tahun 1870an

9. Penang Butterfly Farm
Ini adalah lokasi terjauh yang gue kunjungi selama di Penang dari hotel gue di George Town. Perjalanannya memakan waktu 45 menit dengan taksi. Namanya juga peternakan, jadi kita melihat banyak sekali kupu-kupu terbang, termasuk juga kepompong yang bakal jadi kupu-kupu. Selain itu ada koleksi serangga lain dan beberapa binatang reptil.

10. Restoran Tajuddin Hussein
Restoran India paling masyur di Penang menurut supir taksi gue. Kabarnya terkenal karena nasi kandarnya. Penuh dikala makan siang dan menu habis di sore hari. Bener, gue datang sore hari dan yang tersisa hanya nasi putih biasa dan menu ayam dan kambing dengan kari yang lezat!. Letaknya di Lebih Campbell, dikenal juga sebagai Little India-nya Penang.

Tips:

  • Taksi dari Bandara - George Town : 42 RM
  • Budget hotel: Tune Hotel, Jalan Burma, 100 meter dari George Town
  • Taksi dari George Town ke Gurney Drive : 10 - 15 RM (tergantung nego).
  • Nggak ada ide untuk membunuh waktu? datang ke Plaza Gurney saja, salah satu paling hip di Penang. Mungkin bisa mencoba untuk nonton film Malaysia di bioskopnya :D.
  • Taksi dari George Town ke Penang Butterfly Farm, lanjut ke Tropical Spice Garden : 100 RM
  • Taksi dari George Town ke Penang Hill : 20 RM

Halo!

December 24th, 2009

Setelah INAFFF, trus JIFEST, trus sekarang mau libur akhir tahun, gue nggak update-update blog ya :D. Lama banget ternyata! Ini semua gara-gara twitter, semua kejadian langsung gue update disana :D

Jaminan lucu: buku Bukan John Jangan Travolta

October 26th, 2009

 

Tahu kan standar lucu saya kayak gimana? :D

Gue jamin, buku ini bakal bikin elo ngakak :))